Halal Bihalal PCNU Samarinda Perkuat Silaturahmi
Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi kebersamaan antar pengurus dan warga Nahdlatul Ulama di Kota Samarinda pasca-Idulfitri 1447 Hijriah.
Makna Halal Bihalal Lebih dari Sekadar Tradisi
Dalam sambutannya, Saefuddin Zuhri menegaskan bahwa Halal Bihalal tidak sekadar tradisi tahunan, melainkan memiliki makna yang lebih dalam sebagai ruang batin untuk memperbaiki hubungan antarsesama.
“Halal Bihalal bukan sekadar forum saling bersalaman dan memaafkan. Ini adalah ruang untuk membersihkan hati, merapikan hubungan, serta memperkuat komitmen kebersamaan demi kemaslahatan umat,” ujarnya.
Tekankan Persaudaraan di Tengah Perbedaan
Ia menekankan bahwa momentum tersebut menjadi penting di tengah dinamika kehidupan sosial yang kerap menghadirkan perbedaan pandangan maupun jarak antarmasyarakat.
“Persaudaraan harus selalu lebih besar daripada perbedaan. Kebersamaan harus lebih kuat daripada prasangka, dan kepentingan umat harus lebih tinggi daripada kepentingan pribadi maupun kelompok,” katanya.
Peran Strategis NU dalam Kehidupan Sosial
Saefuddin juga menyoroti peran strategis Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan besar yang memiliki kontribusi nyata dalam menjaga keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Menurutnya, NU telah lama menjadi kekuatan moral dan sosial yang konsisten merawat moderasi serta menjaga keseimbangan di tengah masyarakat.
“NU selalu hadir sebagai kekuatan yang menyejukkan, menjaga tradisi yang baik, sekaligus mendorong kemajuan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas,” ucapnya.
Kontribusi NU di Samarinda Semakin Luas
Di Kota Samarinda, lanjut dia, peran NU tidak hanya terbatas pada dakwah keagamaan, tetapi juga menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“NU berperan dalam pendidikan, pembinaan umat, penguatan akhlak generasi muda, hingga pelayanan sosial. Ini sangat penting dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk,” ujarnya.
Syawal Jadi Momentum Konsolidasi Kebajikan
Saefuddin juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan bulan Syawal sebagai momentum untuk melanjutkan nilai-nilai yang telah dibangun selama Ramadan.
“Syawal adalah bulan konsolidasi kebajikan. Setelah kita ditempa selama Ramadan, saatnya kita membuktikan hasilnya dalam kehidupan nyata—menjadi lebih sabar, lebih peduli, dan lebih jujur,” katanya.
Ingatkan Dampak Ibadah Ramadan dalam Kehidupan
Ia mengingatkan agar ibadah Ramadan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi mampu membentuk karakter dan perilaku yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai Ramadan hanya meninggalkan kenangan ibadah, tetapi tidak meninggalkan bekas pada akhlak kita,” tegasnya.
Apresiasi Peran Ulama dan Ajak Generasi Muda Berkontribusi
Di akhir sambutannya, Saefuddin menyampaikan apresiasi kepada para ulama, kiai, ustadz, serta penggerak organisasi keagamaan yang selama ini berperan aktif dalam membina umat di Kota Samarinda.
Ia juga mengajak generasi muda, khususnya kader NU, untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah.
Perkuat Sinergi Pemerintah dan Organisasi Keagamaan
Melalui kegiatan Halal Bihalal ini, diharapkan sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan semakin kuat dalam membangun Kota Samarinda yang harmonis, aman, dan berkeadaban.
“Jadilah generasi yang religius, cerdas, terbuka, dan berintegritas. Kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap berpijak pada akhlakul karimah,” pesannya.
(Redaksi)