Nasional

Tren Harga Pertamax Berpotensi Turun demi Redam Tekanan Inflasi

POLITIKAL.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi produksi Pertamina, Pertamax, segera mengalami penurunan. Tren positif ini terjadi akibat penurunan harga minyak mentah di pasar global yang terus berlangsung belakangan ini. Purbaya Yudhi Sadewa meyakini bahwa penurunan harga Pertamax tersebut akan memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi nasional dan membantu pemerintah meredakan tekanan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

Sebelumnya, konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sempat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga melampaui angka 100 dolar AS per barel. Namun, situasi pasar saat ini menunjukkan pergerakan yang lebih stabil. Minyak mentah jenis Brent kini berada pada level 72,08 dolar AS per barel, sedangkan jenis WTI bergerak pada kisaran 68,89 dolar AS per barel.

Tren Harga Pertamax Mengikuti Pasar Global

Pemerintah terus memantau pergerakan harga komoditas energi ini untuk menentukan kebijakan harga BBM domestik. Menteri Keuangan mengharapkan penurunan harga minyak dunia secara bertahap ini akan segera diikuti oleh penyesuaian tarif hilir di Indonesia.

“Saya memproyeksikan harga Pertamax akan berkurang secara bertahap seiring dengan penurunan harga minyak dunia yang terjadi secara perlahan saat ini. Penurunan tersebut tentu akan segera mengurangi beban terhadap inflasi nasional,” kata Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan keterangan resmi di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2026).

Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa lonjakan inflasi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir merupakan fenomena jangka pendek. Kondisi tersebut utamanya bersumber dari fluktuasi harga pada sektor pangan dan sektor energi. Oleh sebab itu, tekanan inflasi akan berkurang secara alami ketika harga-harga komoditas tersebut kembali ke posisi normal.

Inflasi Inti Masih Berada di Level Aman

Pemerintah juga menegaskan bahwa indikator ekonomi makro lainnya masih menunjukkan kinerja yang solid. Struktur pasar domestik dinilai tidak mengalami gejolak yang membahayakan daya beli masyarakat secara fundamental.

“Kita dapat melihat data inflasi inti yang berada pada angka 2,76 persen, yang berarti kondisinya masih cukup aman dan terkendali. Pergerakan inflasi saat ini murni terjadi akibat dinamika harga komoditas yang fluktuatif seperti minyak, BBM, dan bahan pangan. Dampak ini akan mereda dalam hitungan bulan ke depan karena komponen inti tetap stabil, sehingga kenaikan bukan berasal dari pertumbuhan permintaan masyarakat yang terlalu agresif,” ucap Purbaya Yudhi Sadewa.

Badan Pusat Statistik Rilis Data IHK Terbaru

Pada hari yang sama, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan perkembangan indeks harga konsumen terbaru untuk memberikan gambaran capaian perekonomian paruh pertama tahun ini. Berdasarkan data resmi BPS, perekonomian Indonesia mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,44 persen pada Juni 2026. Catatan tersebut membawa inflasi tahunan mencapai angka 3,34 persen, dengan tingkat inflasi tahun kalender berada pada posisi 1,79 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa pergerakan inflasi bulanan tersebut sejalan dengan pergeseran nilai indeks yang terjadi di lapangan.

“BPS mencatat adanya inflasi bulanan sebesar 0,44 persen pada Juni 2026. Pertumbuhan ini terjadi karena Indeks Harga Konsumen mengalami kenaikan dari posisi 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026. Melalui perhitungan tersebut, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,34 persen dan inflasi tahun kalender berada di angka 1,79 persen,” ujar Ateng Hartono dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta.

Melalui kombinasi penurunan harga minyak mentah dunia dan kendali pada inflasi inti, pemerintah optimistis stabilitas harga di dalam negeri akan semakin kuat. Penurunan harga Pertamax diharapkan menjadi katalis utama dalam mempercepat pemulihan daya beli masyarakat secara menyeluruh.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button