55 Kelompok Meriahkan Pawai Pembangunan Anggana, Budaya dan Sejarah Jadi Sorotan
POLITIKAL.ID – Semangat kemerdekaan sekaligus keberagaman budaya masyarakat mewarnai Pawai Pembangunan di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Ribuan warga memadati kawasan alun-alun untuk menyaksikan puluhan rombongan menampilkan kreativitas dan identitas masing-masing.
Sebanyak 55 kelompok dari berbagai unsur masyarakat ambil bagian dalam kegiatan yang digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut. Peserta berasal dari unsur pemerintah, lembaga desa, sekolah, komunitas hingga organisasi kemasyarakatan.
Camat Anggana, Rendra Abadi, mengatakan pawai tidak hanya ditujukan untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Pawai ini diikuti 55 kelompok dari semua unsur, baik pemerintah, lembaga desa, sekolah, komunitas maupun organisasi masyarakat. Unsur budaya memang menjadi salah satu tema yang kami angkat dalam kegiatan ini,” kata Rendra.
Pawai Anggana Jadi Wadah Kreativitas Masyarakat
Beragam penampilan yang dibawa peserta menunjukkan cara masing-masing kelompok dalam menerjemahkan semangat kemerdekaan. Atribut merah putih berpadu dengan unsur budaya, sejarah dan kreativitas masyarakat.
Rendra menilai kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, kemajuan wilayah tidak cukup hanya diukur dari pembangunan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan identitas dan nilai budaya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai keberagaman budaya yang ada di Kecamatan Anggana.
“Melalui kegiatan ini masyarakat bisa menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dan kecintaan terhadap budaya daerah dapat berjalan bersama,” ujarnya.
Ribuan Warga Saksikan Pawai Pembangunan
Antusiasme masyarakat terlihat sejak rombongan peserta mulai bergerak. Warga memenuhi sejumlah titik di sepanjang jalur pawai dan kawasan alun-alun Kecamatan Anggana.
Kehadiran masyarakat dari berbagai desa sekaligus menjadikan pawai sebagai ruang berkumpul dan bersilaturahmi. Berbagai kelompok masyarakat bertemu dalam satu kegiatan yang dikemas dalam suasana perayaan kemerdekaan.
Rendra mengatakan tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa momentum HUT Kemerdekaan masih menjadi ruang penting untuk memperkuat kebersamaan.
“Yang kita bangun bukan hanya kemeriahan, tetapi kebersamaan. Masyarakat bisa bertemu, bersilaturahmi dan bergotong royong dalam satu kegiatan,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan 55 kelompok menjadi bukti bahwa perayaan HUT ke-81 RI di Kecamatan Anggana tidak hanya digerakkan pemerintah, tetapi melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Desa Sungai Mariam Angkat Kisah Pangeran Antasari
Nuansa sejarah turut terlihat dalam penampilan Desa Sungai Mariam. Rombongan desa tersebut membawa kisah Pangeran Antasari, tokoh perjuangan dari Banjar yang dikenal karena perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Kepala Desa Sungai Mariam, Indra Lesmana, mengatakan pemilihan tema tersebut bertujuan mengenalkan kembali sejarah perjuangan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Menurut Indra, pawai menjadi media yang lebih menarik untuk menyampaikan pesan sejarah karena dapat dikemas melalui penampilan dan kreativitas masyarakat.
“Kami mengangkat tema Pangeran Antasari, pejuang dari Banjar. Ini bagian dari upaya kami mengenalkan sejarah perjuangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar mereka tidak melupakan nilai-nilai perjuangan para pendahulu,” ujar Indra.
Ia menilai nilai perjuangan yang dibawa Pangeran Antasari tetap relevan meski bentuk perjuangan masyarakat saat ini telah berubah.
“Semangat perjuangan itu harus terus diwariskan. Sekarang bentuk perjuangannya tentu berbeda, yaitu bagaimana kita bersama-sama membangun desa dan menjaga persatuan,” katanya.
Identitas Desa Ditampilkan Lewat Pawai
Keikutsertaan Desa Sungai Mariam juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan identitas desa kepada masyarakat yang lebih luas. Tidak hanya membawa tema sejarah, rombongan melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam penampilannya.
Rendra mengatakan keberagaman konsep dari 55 kelompok justru menjadi kekuatan utama Pawai Pembangunan Anggana. Setiap kelompok memiliki cara tersendiri untuk menampilkan semangat kemerdekaan.
“Yang kita bangun bukan hanya kemeriahan, tetapi kebersamaan. Masyarakat bisa berkumpul, bersilaturahmi, bergotong royong dan sekaligus menunjukkan identitas budaya masing-masing,” ujar Rendra.
Ia berharap semangat yang muncul dalam Pawai Pembangunan tidak berhenti setelah rangkaian peringatan kemerdekaan selesai. Nilai persatuan, gotong royong dan kecintaan terhadap budaya diharapkan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Anggana.
“Semangat gotong royong, persatuan dan kecintaan terhadap budaya ini yang harus terus kita hidupkan, bukan hanya saat perayaan kemerdekaan,” pungkasnya.
(Redaksi)
