Ketergantungan Rusia pada Teknologi Buatan China, di Bawah Tekanan Global

POLITIKAL.CO – Hubungan kemitraan antara Moskow dan Beijing kini menunjukkan ketimpangan yang semakin jelas. Sanksi ekonomi dari negara-negara Barat memaksa Moskow meningkatkan ketergantungan Rusia pada teknologi buatan China guna menopang sektor domestik dan industri pertahanan mereka. Tekanan global yang memutus akses terhadap pasar modal dan teknologi canggih Barat menjadi pemicu utama pergeseran tersebut.
Perdagangan bilateral kedua negara sebenarnya sempat melemah pada tahun lalu karena penurunan harga minyak dunia. Namun, Rusia tetap melipatgandakan volume ekspor mereka ke Negeri Tirai Bambu tersebut sejak awal tahun 2022. Langkah ini menjadi strategi utama Moskow untuk mempertahankan stabilitas ekonomi dalam negeri.
Lonjakan Impor Komponen Elektronik dari Beijing
Sanksi ketat dari Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris melarang pengiriman semikonduktor serta mikroelektronika ke Rusia. Kebijakan tersebut memicu kelangkaan perangkat keras dan mesin presisi di pasar domestik Rusia. Menghadapi situasi tersebut, Moskow mengalihkan hampir seluruh kegiatan impor mereka ke pasar Asia.
Data ekonomi menunjukkan bahwa China memasok sekitar 90 persen dari total impor teknologi Rusia yang terkena sanksi pada tahun 2025. Angka tersebut bergerak naik dari posisi 80 persen pada tahun sebelumnya. Moskow membeli pasokan mesin, alat elektronik, dan kendaraan dari Beijing untuk menggantikan posisi perusahaan-perusahaan Barat yang sudah meninggalkan pasar Rusia.
Ketergantungan Rusia pada teknologi buatan China juga mencakup barang-barang yang memiliki fungsi ganda. Komponen tersebut mengalir dalam nilai miliaran dolar untuk mendukung kebutuhan sipil sekaligus memperkuat lini produksi pertahanan. Pasokan ini mencakup peralatan perakitan pesawat nirawak, citra satelit militer, hingga teknologi intelijen pengamatan bumi.
Sistem Pembayaran Menggunakan Mata Unsur Yuan
Tekanan global dari Barat juga menghapus akses bank-bank besar Rusia dari jaringan pembayaran internasional SWIFT. Negara-negara Barat bahkan membekukan cadangan bank sentral Rusia di luar negeri senilai sekitar 300 miliar dolar AS. Kondisi ini membuat transaksi perdagangan dengan mata uang dolar AS atau euro memiliki risiko yang sangat tinggi bagi Kremlin.
Sebagai solusi, kedua negara mempercepat proses dedolarisasi dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing. Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov menyatakan bahwa pada akhir tahun 2025, Rusia dan China sudah menyelesaikan lebih dari 99 persen perdagangan bilateral menggunakan mata uang rubel dan yuan.
“Pada akhir tahun 2025, kami telah merampungkan lebih dari 99 persen perdagangan bilateral dalam rubel dan yuan,” kata Menteri Keuangan Rusia, Anton Siluanov saat menjelaskan sistem pembayaran baru tersebut.
Meskipun sistem ini menstabilkan perdagangan, fenomena yuanisasi ini menimbulkan tantangan baru bagi Moskow. Rusia kerap menghadapi kendala kelangkaan mata uang yuan serta beban biaya pinjaman yang jauh lebih tinggi. Situasi tersebut memaksa Rusia menerima dominasi penuh Beijing dalam setiap proses negosiasi bilateral.
Potensi Peningkatan Dominasi Ekonomi China
Para analis memprediksi pengaruh ekonomi Beijing terhadap Moskow akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan. Moskow saat ini terus mendorong percepatan proyek infrastruktur energi, termasuk rencana pembangunan pipa gas Power of Siberia 2 melewati wilayah Mongolia. Proyek ini berpotensi mengirimkan hingga 50 miliar meter kubik gas per tahun ke China, meskipun saat ini masih terkendala diskusi harga.
Keamanan jalur darat ini menjadi nilai strategis tersendiri bagi pihak Beijing. Peneliti Senior di Atlantic Council, Joseph Webster menulis bahwa peningkatan kapasitas pipa Rusia ke China akan secara signifikan meningkatkan keamanan pasokan minyak Beijing dalam situasi darurat di Taiwan.
“Peningkatan kapasitas pipa Rusia ke China akan secara signifikan meningkatkan keamanan pasokan minyak Beijing dalam situasi darurat di Taiwan,” tulis Peneliti Senior di Atlantic Council, Joseph Webster dalam analisisnya.
Langkah ini memperlihatkan bagaimana Beijing memanfaatkan situasi untuk mengamankan pasokan energi darat yang andal. Di sisi lain, kedekatan geopolitik ini kian mengunci masa depan sektor energi Rusia sekaligus memperkuat posisi tawar ekonomi China atas Moskow.
(Redaksi)


