Advertorial

DPRD Minta Pemerintah Kota Evaluasi Aktivitas Pasar Pagi Samarinda

POLITIKAL.ID – DPRD Kota Samarinda meminta pemerintah daerah segera mengevaluasi aktivitas Pasar Pagi Samarinda yang hingga kini belum menunjukkan perkembangan ekonomi yang optimal. Meski proyek revitalisasi bangunan tersebut menghabiskan anggaran daerah lebih dari Rp400 miliar, kondisi di dalam pasar tradisional ini masih terlihat sepi dari kegiatan jual-beli.

Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, menjelaskan bahwa instansinya sejak awal telah mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada penyelesaian fisik bangunan. Menurut ia, kemegahan infrastruktur baru baru bisa dikatakan berhasil jika mampu menggerakkan roda ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan para pedagang lokal.

Iswandi memandang tingkat kunjungan yang rendah saat ini menandakan bahwa dampak positif dari proyek besar tersebut belum menyentuh masyarakat secara luas.

“Pemerintah mendirikan pasar ini dengan dana melebihi Rp400 miliar, fisik bangunannya memang berkualitas. Namun, proyek tersebut menjadi kurang bermakna jika para pedagang tetap sepi dan perputaran uang tidak berjalan, hal ini yang saya cemaskan sejak masa perencanaan,” kata Iswandi saat memberikan keterangan di Kantor DPRD Kota Samarinda, Jumat (26/6/2026).

Dinas Perdagangan Harus Benahi Tata Ruang Kios

Komisi II DPRD Kota Samarinda menilai tantangan utama saat ini terletak pada efektivitas pemanfaatan gedung, bukan pada kualitas konstruksinya. Iswandi mengingatkan bahwa kebijakan pembangunan yang sekadar mengutamakan keindahan visual tanpa memperhitungkan fungsi ekonomi berisiko menjadi investasi yang kurang efisien bagi daerah.

“Oleh karena itu, jangan sampai kita hanya memiliki infrastruktur yang bernilai estetika tinggi, tetapi tidak mendatangkan keuntungan ekonomi bagi warga. Kondisi seperti itu sangat berisiko,” ucapnya menambahkan.

Guna menghidupkan kembali aktivitas Pasar Pagi Samarinda, legislatif mendesak Dinas Perdagangan Kota Samarinda segera merancang strategi nyata. Langkah konkrit tersebut diperlukan untuk mengisi stan-stan yang masih kosong sekaligus memicu minat belanja masyarakat ke pasar legendaris ini. Evaluasi menyeluruh wajib mencakup aspek promosi hingga penataan ulang zonasi pedagang.

Banyak Ruang Kosong Hambat Keramaian Pembeli

Berdasarkan pemantauan di lapangan, Iswandi melihat banyak area strategis di dalam gedung yang belum terisi secara maksimal. Kekosongan ini secara langsung memengaruhi atmosfer pasar, sehingga suasana ramai yang menjadi ciri khas pasar rakyat belum juga terbentuk.

“Kami menuntut dinas terkait segera menemukan formula tepat untuk meramaikan kawasan ini. Instansi pembuat kebijakan jangan hanya mampu membangun gedung, tetapi harus kompeten juga dalam mendatangkan pembeli. Manajemen tata letak internal pasar wajib masuk dalam agenda evaluasi,” ujar Iswandi secara tegas.

Ia menambahkan bahwa esensi dari sebuah pasar adalah kepadatan interaksi dagang yang terasa sejak melangkah masuk ke dalam area tersebut. Keberadaan lorong-lorong sepi justru menjauhkan gedung baru ini dari fungsi sosial dan ekonomi yang sebenarnya.

“Saya menyaksikan sendiri masih banyak area yang melongpong. Karakteristik pasar seharusnya padat oleh aktivitas transaksi, sementara kondisi di lokasi saat ini justru menyerupai lorong kosong dan kurang mencerminkan tempat perniagaan,” kata Iswandi mengakhiri penjelasannya.

(Redaksi)

Show More

Related Articles

Back to top button