Alasan Jusuf Kalla Usul Harga BBM Naik: Tekan Defisit APBN di Tengah Konflik Timur Tengah

POLITIKAL.ID – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, menjelaskan alasan di balik usulannya agar pemerintah mempertimbangkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Di tengah konflik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi global, JK menilai subsidi BBM berpotensi memperbesar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Alasan JK Dorong Pengurangan Subsidi Energi
Jusuf Kalla menilai pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk menjaga kesehatan fiskal. Ia menyebut pengurangan subsidi sebagai opsi realistis meski berdampak pada kenaikan harga BBM.
“Kita minta agar dipertimbangkan untuk mengurangi defisit, mengurangi utang dengan cara mengurangi subsidi. Karena mengurangi subsidi berarti menaikkan harga,” kata JK saat wawancara di kediamannya, Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2026).
Ia menegaskan lonjakan harga energi global akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mendorong banyak negara melakukan penghematan.
Konflik Timur Tengah Tekan Harga Energi Global
JK melihat konflik geopolitik sebagai faktor utama yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini langsung meningkatkan beban subsidi dalam negeri.
Ia menjelaskan, jika pemerintah menahan harga BBM, negara harus menutup selisih harga dengan subsidi yang lebih besar. Langkah ini akan mempercepat kenaikan utang negara.
JK Ingatkan Risiko Utang Lebih Besar
JK mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan risiko jangka panjang. Ia menilai kenaikan utang negara akan memberi dampak lebih berat dibanding kenaikan harga BBM.
Menurutnya, pemerintah harus memilih kebijakan yang paling rasional untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
JK: Masyarakat Bisa Menerima Jika ada Penjelasan
JK meyakini masyarakat dapat menerima kebijakan kenaikan harga BBM jika pemerintah menyampaikan alasan secara terbuka dan jelas.
“Jadi pilihan, ini masalah pilihan. Pengalaman saya 20 tahun, kalau dijelaskan kepada rakyat dengan baik, rakyat akan menerima. Tahun 2005, 2014, tidak ada demo karena kita jelaskan dengan baik,” ujarnya.
Ia menegaskan faktor eksternal menjadi alasan kuat yang bisa dipahami masyarakat.
Kenaikan BBM Dapat Dorong Penghematan
JK menilai kenaikan harga BBM akan mendorong masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum.
Ia juga membandingkan dengan kebijakan work from home (WFH) yang menurutnya kurang efektif menekan mobilitas.
“Kalau (harga) naik, itu yang motor pasti berkurang, masyarakat akan lebih banyak tinggal di rumah atau beralih ke kendaraan umum. Itu lebih efektif daripada harus semua tinggal di rumah, tapi tetap keluar juga,” jelasnya.
Menurut JK, kebijakan harga menjadi instrumen paling efektif untuk mengendalikan konsumsi energi.
Usulan Jusuf Kalla memperkuat wacana penyesuaian harga BBM di tengah tekanan global. Pemerintah kini harus menimbang dampak sosial dan risiko fiskal sebelum mengambil keputusan.
(Redaksi)
