Ekonomi

Pengusaha Khawatir Rupiah di Level Rp18.000 per Dolar AS, Investasi Baru Mulai Ditunda

POLITIKAL.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat mulai memengaruhi keputusan bisnis di berbagai sektor. Sejumlah perusahaan memilih menunda ekspansi dan investasi baru karena biaya produksi yang terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan tekanan kurs tidak hanya berdampak pada biaya impor, tetapi juga mengurangi ruang gerak perusahaan untuk mengembangkan usaha.

Menurutnya, pelaku usaha saat ini lebih fokus menjaga stabilitas operasional dibanding mengambil risiko memperluas bisnis.

“Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya produksi, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi,” ujar Shinta, Kamis (4/6/2026).

Perusahaan Pilih Tahan Rekrutmen dan Pangkas Biaya

Menghadapi kondisi tersebut, banyak perusahaan mulai menerapkan langkah penghematan untuk menjaga kesehatan keuangan.

Shinta menjelaskan sejumlah pelaku usaha menjalankan efisiensi operasional, mengendalikan pengeluaran non-prioritas, hingga menghentikan sementara perekrutan tenaga kerja baru atau hiring freeze.

Selain itu, perusahaan juga mulai menunda sejumlah proyek investasi yang sebelumnya telah direncanakan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi risiko yang muncul akibat fluktuasi nilai tukar.

Di saat yang sama, sebagian pelaku usaha memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan menerapkan strategi lindung nilai atau hedging guna mengurangi dampak pelemahan rupiah.

Industri Berbasis Impor Merasakan Dampak Terbesar

Shinta menilai sektor manufaktur menjadi kelompok industri yang paling merasakan tekanan. Pasalnya, banyak industri masih bergantung pada bahan baku impor dalam proses produksinya.

Ketergantungan bahan baku impor yang mencapai sekitar 80 persen membuat kenaikan kurs dolar langsung berdampak pada biaya produksi.

Industri tekstil, kimia, petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, hingga otomotif menjadi sektor yang paling rentan terhadap gejolak nilai tukar.

Menurut Shinta, pelaku usaha saat ini juga harus menghadapi tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan. Kombinasi berbagai faktor tersebut menciptakan tekanan berlapis terhadap dunia usaha.

Optimisme Dunia Usaha Mulai Menurun

Selain tekanan kurs, indikator industri juga menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi dalam beberapa waktu terakhir.

Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur tercatat masih berada di zona kontraksi sejak pertengahan tahun lalu. Kondisi tersebut mencerminkan perlambatan aktivitas produksi di sektor manufaktur.

Shinta menilai pelemahan rupiah yang semakin dalam berpotensi memperberat kondisi industri yang sebelumnya sudah menghadapi tantangan pertumbuhan.

Ia mengingatkan bahwa beberapa subsektor manufaktur sebelumnya telah mencatat pertumbuhan di bawah rata-rata ekonomi nasional, bahkan sebagian mengalami kontraksi.

Rupiah Sentuh Level Terendah Baru

Data Refinitiv menunjukkan rupiah di pasar spot mencapai Rp18.015 per dolar AS pada pukul 09.11 WIB. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,42 persen dan menjadi kali pertama rupiah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Pergerakan tersebut terjadi relatif cepat. Pada awal April 2026, rupiah masih berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Dalam waktu kurang dari dua bulan, mata uang Indonesia kembali melemah sekitar Rp1.000 terhadap dolar AS.

Kondisi itu membuat pelaku usaha berharap adanya langkah-langkah yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar dan meningkatkan kepastian usaha agar sektor riil tetap dapat tumbuh di tengah tekanan global.

(RedaksI)
Show More

Related Articles

Back to top button