FPKS Kaltim Dukung Penuh Hilirisasi Sawit Jadi Motor Penguatan Ekonomi Daerah
POLITIKAL.ID – Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kalimantan Timur menegaskan dukungannya terhadap percepatan hilirisasi industri kelapa sawit sebagai strategi memperkuat perekonomian daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani swadaya.
Komitmen tersebut disampaikan FPKS Kaltim melalui siaran pers yang diterbitkan seusai pelaksanaan 9th Borneo Forum 2026 di Balikpapan. Organisasi petani sawit itu menilai arah kebijakan yang disampaikan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menjadi momentum penting untuk mempercepat transformasi sektor perkebunan dari sekadar penghasil bahan baku menjadi industri bernilai tambah.
FPKS Kaltim mendukung hilirisasi sawit alasannya, karena sektor kelapa sawit selama ini telah menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kalimantan Timur. Karena itu, penguatan hilirisasi dinilai menjadi langkah strategis agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati industri besar, tetapi juga dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat.
Berdasarkan data yang disampaikan FPKS, Kalimantan Timur memiliki sekitar 1,6 juta hektare perkebunan kelapa sawit dengan produksi mencapai 4,3 hingga 4,9 juta ton per tahun. Potensi tersebut dinilai menjadi modal besar untuk mengembangkan industri hilir yang mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan investasi, serta memperkuat daya saing daerah.
FPKS Kaltim Dukung Hilirisasi Sawit: Dorong Penguatan Petani Sawit
Ketua FPKS Kalimantan Timur, Asbudi, mengatakan hilirisasi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas petani swadaya agar mereka tidak hanya menjadi pemasok tandan buah segar, tetapi juga memperoleh manfaat dari peningkatan nilai tambah industri sawit.
“Hilirisasi bukan hanya membangun pabrik pengolahan, tetapi juga memastikan petani menjadi bagian dari rantai nilai industri. Ketika petani semakin kuat, maka industri sawit juga akan semakin berdaya saing dan mampu menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur,” ujar Asbudi.
Menurutnya, percepatan hilirisasi harus diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penggunaan benih unggul, penguatan kelembagaan petani, serta pembangunan kemitraan yang sehat antara petani, perusahaan, pemerintah, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi.
Sebagai bentuk dukungan terhadap agenda tersebut, FPKS Kaltim menyatakan siap menjalankan berbagai program pemberdayaan petani. Program itu meliputi pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), pengembangan pembibitan berkualitas, pendampingan legalitas usaha perkebunan, peningkatan produktivitas kebun rakyat, hingga memperluas akses pembiayaan dan pemasaran hasil panen.
FPKS juga mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat kolaborasi dalam membangun ekosistem industri sawit yang berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Asbudi, keberhasilan hilirisasi tidak dapat dicapai hanya oleh pemerintah atau pelaku usaha semata. Diperlukan sinergi seluruh pihak agar petani memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, dan kepastian hukum.
“Petani sawit harus ditempatkan sebagai mitra strategis pembangunan. Tanpa penguatan petani, hilirisasi tidak akan memberikan manfaat yang optimal bagi daerah maupun masyarakat,” katanya.
9th Borneo Forum 2026 Jadi Momentum Kolaborasi Industri Sawit Kaltim
FPKS menilai 9th Borneo Forum 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, organisasi petani, dunia usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong pembangunan industri sawit yang inovatif dan berdaya saing global.
Organisasi tersebut juga menyatakan siap bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, GAPKI, APKASINDO, serta berbagai pelaku industri untuk mendukung kebijakan hilirisasi yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat kontribusi sektor sawit terhadap pembangunan daerah.
Asbudi menegaskan, sektor kelapa sawit memiliki peran strategis dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur di tengah upaya pemerintah melakukan diversifikasi ekonomi.
“Ketika petani sawit maju, industri sawit akan semakin kuat. Ketika industri sawit kuat, ekonomi daerah tumbuh, lapangan kerja tercipta, dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Itulah komitmen FPKS Kalimantan Timur dalam mendukung hilirisasi sawit sebagai penggerak ekonomi daerah,” pungkasnya.
(Redaksi)

