MSCI Beri Peringatan ke Indonesia, Status Emerging Market Bisa Ditinjau Ulang pada 2026
POLITIKAL.ID – Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market pada MSCI 2026 Market Classification Review. Keputusan tersebut memberi sentimen positif bagi pasar modal nasional. Namun, MSCI menegaskan keberlanjutan reformasi pasar modal akan menentukan posisi Indonesia pada evaluasi berikutnya.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai keputusan MSCI menunjukkan pasar modal Indonesia masih memiliki daya tarik di mata investor global. Meski begitu, regulator dan pelaku pasar perlu mempercepat berbagai pembenahan yang saat ini berjalan.
“Keputusan MSCI memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, seluruh pemangku kepentingan tetap harus memperkuat reformasi agar daya saing pasar modal Indonesia terus meningkat,” kata Nafan.
Emerging Market Indonesia 2026: MSCI Apresiasi Langkah OJK, BEI, dan KSEI
Dalam laporan terbarunya, MSCI mengapresiasi sejumlah kebijakan yang dijalankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Regulator pasar modal meningkatkan keterbukaan informasi pemegang saham di atas satu persen. Mereka juga menerapkan kerangka High Shareholding Concentration (HSC) dan menyusun roadmap peningkatan batas minimum free float menjadi 15 persen.
Meski mengapresiasi langkah tersebut, MSCI masih mencermati transparansi pasar dan struktur kepemilikan saham emiten. Faktor itu menjadi perhatian utama investor global ketika menilai kualitas pasar modal suatu negara.
Reformasi Jadi Kunci Pertahankan Status Emerging Market
MSCI menekankan bahwa hasil reformasi harus terlihat secara nyata dalam praktik pasar. Lembaga tersebut akan kembali mengevaluasi perkembangan tersebut hingga MSCI Index Review November 2026.
Nafan menjelaskan, MSCI menginginkan bukti bahwa reformasi mampu meningkatkan aksesibilitas dan kualitas investasi di Indonesia.
“MSCI akan melihat konsistensi pelaksanaan reformasi serta dampaknya terhadap pasar. Faktor itu menjadi dasar penilaian mereka pada evaluasi berikutnya,” ujarnya.
Jika kemajuan reformasi tidak memenuhi harapan, MSCI dapat membuka konsultasi terkait perubahan klasifikasi pasar Indonesia.
Investor Asing Masih Mencatatkan Aksi Jual
Di tengah sentimen positif dari MSCI, investor asing masih membukukan aksi jual di Bursa Efek Indonesia.
Pada perdagangan Selasa (23/6/2026), investor asing mencatat net sell sebesar Rp348,13 miliar. Sepanjang tahun berjalan, total net sell telah mencapai Rp83,88 triliun.
Arus keluar modal tersebut ikut menekan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hingga saat ini, IHSG masih terkoreksi sekitar 29,44 persen secara year to date.
IHSG Berpeluang Melanjutkan Penguatan
Meski menghadapi tekanan, Nafan melihat peluang penguatan IHSG masih terbuka. Ia menilai indikator Stochastic dan Relative Strength Index (RSI) menunjukkan sinyal yang cukup positif.
Selain itu, peningkatan volume transaksi juga memberi dukungan terhadap potensi pemulihan pasar.
Nafan memperkirakan level support IHSG berada di area 5.972 dan 5.848. Sementara itu, level resistance berada pada kisaran 6.257 hingga 6.377.
Suku Bunga AS dan Geopolitik Masih Pengaruhi Pasar
Selain faktor domestik, pasar juga menghadapi tekanan dari kondisi global. Investor terus mencermati arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik internasional.
Pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut sering mengurangi minat investor terhadap aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Karena itu, Nafan meminta investor lebih selektif dalam memilih saham.
“Investor perlu fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, dan peluang pembalikan tren. Mereka juga harus menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” tutupnya.
(Redaksi)




