Indeks Dolar Melemah Memicu Mata Uang Asia Menguat

POLITIKAL ID – Analis mencatat mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu siang. Pelemahan indeks dolar AS ke level terendah dalam dua pekan terakhir menjadi pendorong utama apresiasi mata uang di kawasan regional ini.
Berdasarkan data Refinitiv pada Rabu pukul 12.19 WIB, mata uang won Korea Selatan memimpin penguatan dengan mencatat apresiasi sebesar 0,6 persen. Namun, situasi berbeda menimpa rupee India yang justru mengalami pelemahan sebesar 0,09 persen. Sementara itu, pasar keuangan Indonesia dan Malaysia menghentikan aktivitas perdagangan hari ini karena perayaan hari besar Idul Adha.
Penurunan Indeks Dolar Membantu Mata Uang Asia Menguat
Penurunan kekuatan greenback ke level 99,07, yang merupakan posisi terendah sejak pertengahan Mei, membuat mata uang Asia menguat secara umum. Yuan China turut mencatat penguatan hingga mendekati level tertinggi dalam tiga tahun terakhir setelah mendapat sokongan data makroekonomi domestik yang solid. Otoritas terkait melaporkan laba industri China melonjak 24,7 persen pada April, mencatat laju pertumbuhan tercepat sejak akhir tahun 2023.
Meskipun ekspor China tetap menjadi motor penggerak, beberapa indikator lain menunjukkan ekonomi negara tersebut mulai kehilangan momentum pada awal kuartal kedua. Tim analis Huatai Futures Research Institute memprediksi pergerakan mata uang China ini masih akan fluktuatif dalam rentang tertentu.”Kami melihat yuan berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek, tetapi ruang untuk kenaikan lebih lanjut tampaknya sudah mulai terbatas,” tulis tim analis Huatai Futures Research Institute melalui laporan berkala Refinitiv.
Lembaga riset tersebut memperkirakan yuan akan bergerak pada kisaran 6,76 hingga 6,82 per dolar AS. Perkiraan ini muncul setelah mempertimbangkan dinamika kekuatan dolar global dan kebijakan bank sentral China yang fokus menjaga stabilitas nilai tukar. Sebelum pembukaan pasar, People’s Bank of China menetapkan kurs tengah yuan pada posisi 6,8291 per dolar AS.
Konflik Global Hambat Penguatan Rupee India
Di sisi lain, ketegangan geopolitik baru di Timur Tengah menahan laju penguatan pasar global. Iran menuduh pihak militer Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan udara di dekat Selat Hormuz. Sentimen negatif ini langsung memicu kenaikan harga minyak mentah dunia dan menekan mata uang rupee India.
Rupee India melemah 8 paise ke posisi 95,78 per dolar AS pada perdagangan awal Rabu. Serangan baru tersebut seketika memupus harapan pelaku pasar terkait tercapainya perdamaian cepat antara pihak Washington dan Teheran.
Managing Director CR Forex Advisors, Amit Pabari, menjelaskan bahwa pergerakan harga minyak yang kembali naik menjadi beban utama bagi rupee India saat mata uang Asia menguat. Pelaku pasar sekarang mengalihkan perhatian penuh pada rapat kebijakan moneter Reserve Bank of India (RBI) yang akan berlangsung pada awal Juni mendatang.
“Para pelaku pasar saat ini memiliki pandangan yang terbelah mengenai keputusan bank sentral, apakah mereka akan menaikkan suku bunga atau tetap mempertahankannya. Fokus utama kami adalah melihat sejauh mana bank sentral India akan memprioritaskan stabilitas mata uang di tengah upaya mereka mengendalikan laju inflasi,” kata Amit Pabari menjelaskan situasi pasar regional.
Redaksi

